Sabtu, 17 Maret 2012

Kentut & Sifat Manusia


¤ Tidak jujur : Orang yg abis kentut trus nyalahin orang lain
¤ Bodoh : Orang yg nahan kentut sampe berjam-jam
¤ Bijaksana : Orang yg tau kapan harus kentut
¤ Sengsara : Orang yg pengen kentut tapi gak bisa-bisa
¤ Misterius : Orang yg kalo kentut gak ketahuan orang lain /Smile
¤ Pede : Orang yg selalu yakin kalo kentutnya gak bau
¤ Sadis : Orang yg habis kentut dikibas2in ke temen sebelahnya.
¤ Strategis : Orang yg kalo kentut bisa mengalihkan perhatian orang lain shg lupa soal kentut tsb
¤ Idiot : Orang yg habis kentut trus ambil napas dalem2 untuk ngisep lagi kentutnya *nerd*
¤ Irit : Orang yg kalo kentut dikeluarin dikit demi dikit
¤ Sombong : Orang yg seneng ngebau-in kentutnya sendiri
¤ Ramah : Orang yg dikentutin orang lain tapi tetap senyum Smile
¤ Childish : Orang yg kalo kentut berendam di air biar bisa ngeliat blubug-blubugnya
¤ Jujur : Orang yg langsung mengaku begitu dia kentut
¤ Jenius : Orang yg bisa mengidentifikasi ini bau kentutnya siapa
¤ Sial : Orang yg selalu dikentutin orang lain & bau.
¤ Kurang kontrol : Orang yg kalo kentut sampe keluar ampasnya
¤ Kurang kerjaan : Orang yg senengnya ngebaca BB soal kentut … Hahahaha 

puisi kentut

Kentut..
Dia tak berwujud, tak bernyawa
Tapi baunya terasa…..
Dia tak berbahaya tapi dijauhi
Dia ramah tapi tak didekati
Kalo bunyinya keras artinya jujur, tak bersuara artinya pemalu…..
Keluar sekaligus artinya berjiwa besar,
Setengah-setengah artinya hemat…..
Oohh, Kentut….
Org Inggris kentut bilang : “excuse me”…..
Org Amrik kentut bilang : “pardon me”…..
Org indonesia bilang : “not me, not me…!”
Kentut itu seru…!
Asyiknya dikumpulin, ditahan,
Lalu ledakkan keras-keras ditengah-tengah kelas…
Agar teman2 pada ketawa
ato malah jadi gila…..
Kentut,
Seperti persahabatan…..
Hangatnya terasa…
Begitu tercium, semua orang tahu ada “dia”…
Yang selalu menemani hidup kita..
Kentut…
Nggak kentut berarti nggak sehat…
Banyak kentut, berarti dahsyat…..
Kentut…..
Hati2lah melepaskannya…..
Bertubi-tubi tandanya abis makan ubi…..
Berair tandanya menceret…..
Kentut ,
Nggak ada loe ga rame…
Ada loe malah keramean…
Disegani, dikucilkan, tapi ngangenin…..

Rabu, 14 Maret 2012

Asal Usul banyu wangi

Pada zaman dahulu di kawasan ujung timur Propinsi Jawa Timur terdapat sebuah kerajaan besar yang diperintah oleh seorang Raja yang adil dan bijaksana. Raja tersebut mempunyai seorang putra yang gagah bernama Raden Banterang. Kegemaran Raden Banterang adalah berburu. “Pagi hari ini aku akan berburu ke hutan. Siapkan alat berburu,” kata Raden Banterang kepada para abdinya. Setelah peralatan berburu siap, Raden Banterang disertai beberapa pengiringnya berangkat ke hutan. Ketika Raden Banterang berjalan sendirian, ia melihat seekor kijang melintas di depannya. Ia segera mengejar kijang itu hingga masuk jauh ke hutan. Ia terpisah dengan para pengiringnya.
“Kemana seekor kijang tadi?”, kata Raden Banterang, ketika kehilangan jejak buruannya. “Akan ku cari terus sampai dapat,” tekadnya. Raden Banterang menerobos semak belukar dan pepohonan hutan. Namun, binatang buruan itu tidak ditemukan. Ia tiba di sebuah sungai yang sangat bening airnya. “Hem, segar nian air sungai ini,” Raden Banterang minum air sungai itu, sampai merasa hilang dahaganya. Setelah itu, ia meninggalkan sungai. Namun baru beberapa langkah berjalan, tiba-tiba dikejutkan kedatangan seorang gadis cantik jelita.
“Ha? Seorang gadis cantik jelita? Benarkah ia seorang manusia? Jangan-jangan setan penunggu hutan,” gumam Raden Banterang bertanya-tanya. Raden Banterang memberanikan diri mendekati gadis cantik itu. “Kau manusia atau penunggu hutan?” sapa Raden Banterang. “Saya manusia,” jawab gadis itu sambil tersenyum. Raden Banterang pun memperkenalkan dirinya. Gadis cantik itu menyambutnya. “Nama saya Surati berasal dari kerajaan Klungkung”. “Saya berada di tempat ini karena menyelamatkan diri dari serangan musuh. Ayah saya telah gugur dalam mempertahankan mahkota kerajaan,” Jelasnya. Mendengar ucapan gadis itu, Raden Banterang terkejut bukan kepalang. Melihat penderitaan puteri Raja Klungkung itu, Raden Banterang segera menolong dan mengajaknya pulang ke istana. Tak lama kemudian mereka menikah membangun keluarga bahagia.
Pada suatu hari, puteri Raja Klungkung berjalan-jalan sendirian ke luar istana. “Surati! Surati!”, panggil seorang laki-laki yang berpakaian compang-camping. Setelah mengamati wajah lelaki itu, ia baru sadar bahwa yang berada di depannya adalah kakak kandungnya bernama Rupaksa. Maksud kedatangan Rupaksa adalah untuk mengajak adiknya untuk membalas dendam, karena Raden Banterang telah membunuh ayahandanya. Surati menceritakan bahwa ia mau diperistri Raden Banterang karena telah berhutang budi. Dengan begitu, Surati tidak mau membantu ajakan kakak kandungnya. Rupaksa marah mendengar jawaban adiknya. Namun, ia sempat memberikan sebuah kenangan berupa ikat kepala kepada Surati. “Ikat kepala ini harus kau simpan di bawah tempat tidurmu,” pesan Rupaksa.
Pertemuan Surati dengan kakak kandungnya tidak diketahui oleh Raden Banterang, dikarenakan Raden Banterang sedang berburu di hutan. Tatkala Raden Banterang berada di tengah hutan, tiba-tiba pandangan matanya dikejutkan oleh kedatangan seorang lelaki berpakaian compang-camping. “Tuangku, Raden Banterang. Keselamatan Tuan terancam bahaya yang direncanakan oleh istri tuan sendiri,” kata lelaki itu. “Tuan bisa melihat buktinya, dengan melihat sebuah ikat kepala yang diletakkan di bawah tempat peraduannya. Ikat kepala itu milik lelaki yang dimintai tolong untuk membunuh Tuan,” jelasnya. Setelah mengucapkan kata-kata itu, lelaki berpakaian compang-camping itu hilang secara misterius. Terkejutlah Raden Banterang mendengar laporan lelaki misterius itu. Ia pun segera pulang ke istana. Setelah tiba di istana, Raden Banterang langsung menuju ke peraaduan istrinya. Dicarinya ikat kepala yang telah diceritakan oleh lelaki berpakaian compang-camping yang telah menemui di hutan. “Ha! Benar kata lelaki itu! Ikat kepala ini sebagai bukti! Kau merencanakan mau membunuhku dengan minta tolong kepada pemilik ikat kepala ini!” tuduh Raden Banterang kepada istrinya. “ Begitukah balasanmu padaku?” tandas Raden Banterang.”Jangan asal tuduh. Adinda sama sekali tidak bermaksud membunuh Kakanda, apalagi minta tolong kepada seorang lelaki!” jawab Surati. Namun Raden Banterang tetap pada pendiriannya, bahwa istrinya yang pernah ditolong itu akan membahayakan hidupnya. Nah, sebelum nyawanya terancam, Raden Banterang lebih dahulu ingin mencelakakan istrinya.
Raden Banterang berniat menenggelamkan istrinya di sebuah sungai. Setelah tiba di sungai, Raden Banterang menceritakan tentang pertemuan dengan seorang lelaki compang-camping ketika berburu di hutan. Sang istri pun menceritakan tentang pertemuan dengan seorang lelaki berpakaian compang-camping seperti yang dijelaskan suaminya. “Lelaki itu adalah kakak kandung Adinda. Dialah yang memberi sebuah ikat kepala kepada Adinda,” Surati menjelaskan kembali, agar Raden Banterang luluh hatinya. Namun, Raden Banterang tetap percaya bahwa istrinya akan mencelakakan dirinya. “Kakanda suamiku! Bukalah hati dan perasaan Kakanda! Adinda rela mati demi keselamatan Kakanda. Tetapi berilah kesempatan kepada Adinda untuk menceritakan perihal pertemuan Adinda dengan kakak kandung Adinda bernama Rupaksa,” ucap Surati mengingatkan.
“Kakak Adindalah yang akan membunuh kakanda! Adinda diminati bantuan, tetapi Adinda tolah!”. Mendengar hal tersebut , hati Raden Banterang tidak cair bahkan menganggap istrinya berbohong.. “Kakanda ! Jika air sungai ini menjadi bening dan harum baunya, berarti Adinda tidak bersalah! Tetapi, jika tetap keruh dan bau busuk, berarti Adinda bersalah!” seru Surati. Raden Banterang menganggap ucapan istrinya itu mengada-ada. Maka, Raden Banterang segera menghunus keris yang terselip di pinggangnya. Bersamaan itu pula, Surati melompat ke tengah sungai lalu menghilang.
Tidak berapa lama, terjadi sebuah keajaiban. Bau nan harum merebak di sekitar sungai. Melihat kejadian itu, Raden Banterang berseru dengan suara gemetar. “Istriku tidak berdosa! Air kali ini harum baunya!” Betapa menyesalnya Raden Banterang. Ia meratapi kematian istrinya, dan menyesali kebodohannya. Namun sudah terlambat.
Sejak itu, sungai menjadi harum baunya. Dalam bahasa Jawa disebut Banyuwangi. Banyu artinya air dan wangi artinya harum. Nama Banyuwangi kemudian menjadi nama kota Banyuwangi.

Buaya putih

Di indramayu terdapat satu desa yang bernama Karang Turi, di desa tersebut ada sebuah keluarga yang di kepalai oleh Sarkawi, dan beranggotakan istri Sarkawi, dan dua orang anaknya, Saedah dan Saeni. Suatu saat Sarkawi pergi untuk naik haji. Tiba-tiba di tengah perjalanan Sarkawi tergoda dengan penari ronggeng yang bernama Maimunah. Sarkawi dan Maimunah akhirnya menikah tanpa sepengetahuan keluarganya di rumah
Sudah tujuh bulan lamanya Sarkawi tidak datang jua, istri Sarkawi sakit dan akhirnya meninggal dunia. Beberapa hari kemudian Sarkawi mengutuskan untuk pulang ke kampung halama serta membawa istri mudanya. setiba di rumah Sarkawi terkejut karena mendengar kabar dari anaknya bahwa ibu sudah meninggal.
Susana semakin membaik, Sarkawi memperkenalkan Maimunah kepada Saedah dan Saeni bahwa Maimunah telah menjadi ibu tirinya. Tidak lama dari itu Sarkawi pun pergi untuk mencari nafkah Maimunah pergi ke pasar, sebelum pergi ia berpesan kepada Saedah dan Saeni jika ia pergi, beras dan uang yang ada di meja jangan di pakai. Tapi sebaliknya karena Saeni lapar, akhirnya beras dimasak oleh Saedah. Setelah Maimunah tahu akhirnya Maimunah marah dan mencacimaki Saedah dan Saeni. Karena tidak kuat atas perilaku ibu tirinya Saedah dan Saeni memutuskan untuk pergi dari rumah, Maimunah sadar akan perbuatanya, ia meminta maaf dan meminta Saedah dan Saeni jangan pergi dari rumah. Sebagai wujud permohonan maaf Maimunah mengajak anak tirinya itu jalan-jalan ke kota. Rupanya Maimunah bukanya ingin ngajak jalan-jalan tetapi ingin membuang Saedah dan Saeni anak tirinya itu di tengah hutan.
Hari sudah malam hanya ada Saedah, Saeni dan binatang malam yang berada di tengah hutan.ada seorang kakek tua mendekati Saeni lalu ia memberi petunjuk kepada Saeni, bahwa Saeni akan di jadikan penari ronggeng tetapi mereka mengadakan perjanjian. Sesudahnya Saeni menjadi penari ronggeng dan Saedah jadi tukang kendang hidup mereka jauh lebih baik bahkan mereka berniatan untuk membayar hutang kepada ibu tirinya. Seiring waktu berlalu si kakek tuapun menagih janji tak lama kemudian Saeni berubah menjadi buaya putih.
Melihat adiknya berubah wujud menjadi buaya putih Saedah langsung memberi kabar kepada orang tuanya di rumah, tanpa berpikir panjang Saedah dan orang tuanya menuju ke sungai sewok. Tak lama kemudian Sarkawi terjun ke sungai Sarkawi pun berubah wujud menjadi bale kambang (balai yang mengambang). Begitu pula istri mudanya, Maimunah menjadi pring ori(bambu). Karna melihat keluarganya sudah tidak ada semua, badan Saedah terasa lemas, Saedah tertidur di jalur rel kereta api yang bersebelahan dengan sungai sewok, akhirnya Saedah terlindas kereta api dan berubah wujud menjadi bunga cempaka putih.

Asal Usul danau toba

Di wilayah Sumatera hiduplah seorang petani yang sangat rajin bekerja. Ia hidup sendiri sebatang kara. Setiap hari ia bekerja menggarap lading dan mencari ikan dengan tidak mengenal lelah. Hal ini dilakukannya untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari.

Pada suatu hari petani tersebut pergi ke sungai di dekat tempat tinggalnya, ia bermaksud mencari ikan untuk lauknya hari ini. Dengan hanya berbekal sebuah kail, umpan dan tempat ikan, ia pun langsung menuju ke sungai. Setelah sesampainya di sungai, petani tersebut langsung melemparkan kailnya. Sambil menunggu kailnya dimakan ikan, petani tersebut berdoa,“Ya Alloh, semoga aku dapat ikan banyak hari ini”. Beberapa saat setelah berdoa, kail yang dilemparkannya tadi nampak bergoyang-goyang. Ia segera menarik kailnya. Petani tersebut sangat senang sekali, karena ikan yang didapatkannya sangat besar dan cantik sekali.

Setelah beberapa saat memandangi ikan hasil tangkapannya, petani itu sangat terkejut. Ternyata ikan yang ditangkapnya itu bisa berbicara. “Tolong aku jangan dimakan Pak!! Biarkan aku hidup”, teriak ikan itu. Tanpa banyak Tanya, ikan tangkapannya itu langsung dikembalikan ke dalam air lagi. Setelah mengembalikan ikan ke dalam air, petani itu bertambah terkejut, karena tiba-tiba ikan tersebut berubah menjadi seorang wanita yang sangat cantik.

“Jangan takut Pak, aku tidak akan menyakiti kamu”, kata si ikan. “Siapakah kamu ini? Bukankah kamu seekor ikan?, Tanya petani itu. “Aku adalah seorang putri yang dikutuk, karena melanggar aturan kerajaan”, jawab wanita itu. “Terimakasih engkau sudah membebaskan aku dari kutukan itu, dan sebagai imbalannya aku bersedia kau jadikan istri”, kata wanita itu. Petani itupun setuju. Maka jadilah mereka sebagai suami istri. Namun, ada satu janji yang telah disepakati, yaitu mereka tidak boleh menceritakan bahwa asal-usul Puteri dari seekor ikan. Jika janji itu dilanggar maka akan terjadi petaka dahsyat.

Setelah beberapa lama mereka menikah, akhirnya  kebahagiaan Petani dan istrinya bertambah, karena istri Petani melahirkan seorang bayi laki-laki. Anak mereka tumbuh menjadi anak yang sangat tampan dan kuat, tetapi ada kebiasaan yang membuat heran semua orang. Anak tersebut selalu merasa lapar, dan tidak pernah merasa kenyang. Semua jatah makanan dilahapnya tanpa sisa.

Hingga suatu hari anak petani tersebut mendapat tugas dari ibunya untuk mengantarkan makanan dan minuman ke sawah di mana ayahnya sedang bekerja. Tetapi tugasnya tidak dipenuhinya. Semua makanan yang seharusnya untuk ayahnya dilahap habis, dan setelah itu dia tertidur di sebuah gubug. Pak tani menunggu kedatangan anaknya, sambil menahan haus dan lapar. Karena tidak tahan menahan lapar, maka ia langsung pulang ke rumah. Di tengah perjalanan pulang, pak tani melihat anaknya sedang tidur di gubug. Petani tersebut langsung membangunkannya. “Hey, bangun!, teriak petani itu.

Setelah anaknya terbangun, petani itu langsung menanyakan makanannya. “Mana makanan buat ayah?”, Tanya petani. “Sudah habis kumakan”, jawab si anak. Dengan nada tinggi petani itu langsung memarahi anaknya. "Anak tidak tau diuntung ! Tak tahu diri! Dasar anak ikan!," umpat si Petani tanpa sadar telah mengucapkan kata pantangan dari istrinya.

Setelah petani mengucapkan kata-kata tersebut, seketika itu juga anak dan istrinya hilang lenyap tanpa bekas dan jejak. Dari bekas injakan kakinya, tiba-tiba menyemburlah air yang sangat deras. Air meluap sangat tinggi dan luas sehingga membentuk sebuah telaga. Dan akhirnya membentuk sebuah danau. Danau itu akhirnya dikenal dengan nama Danau Toba.

Negri 5 menara

Film Negeri 5 Menara adalah film yang ditayangkan dan diadopsi dari novel yang sangat inspiratif yaitu Negeri 5 Menara, novel tersebut ditulis oleh salah seseorang alumni juga yang bernama A. Fuadi dimana dalam novel ini diceritakan kisah beberapa santri yang datang dari beberapa daerah yang jauh hanya untuk menuntut ilmu di salah satu pesantren di indonesia yakni Gontor.

Film Negeri 5 Menara
ini yang disutadrai oleh Affandi Abdul Rahman mulai tampil pada 1 maret kemarin. 'Negeri 5 Menara' bercerita tentang kehidupan 6 santri dari 6 daerah yang berbeda yang menuntut ilmu di Pondok Madani (PM), Ponorogo, Jawa Timur. Meskipun jauh dari rumah, mereka berhasil mewujudkan mimpinya dengan usaha yang keras.

Film tersebut menampilkan para bintang terkenal, antara lain David Chalik, Lulu Tobing, Andhika Pratama, Donny ALamsyah, dan Mario Irwansyah. Aktor gaek Ikang Fawzi yang terkenal sebagai ikon rock 'n roll era 80-an juga tampil di film tersebut. Sang 'preman' berperan sebagai kiai di sebuah pesantren.

Proses syuting film tersebut dilakukan di enam tempat berbeda, yakni Pesantren Gontor, Maninjau, Bukit Tinggi, London, dan Jakarta
.

saya ingin menegaskan mantra yang sangat dipuji-puji dalam novel ini yaitu "man jadda wajada" barang siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan berhasil. seuntai kata yang pendek tapi memiliki makna yang sangat amat dalam apabila kita merenunginya.